3 Bulan Untuk Perbaikan
3 bulan berlalu untuk beberapa drama kejadian di awal tahun 2020. Lebih tepatnya sih di akhir tahun 2019. Thn yg lalu saya masih bekerja sebagai karyawan kantoran a.k.a karyawan di salah satu perusahaan swasta di Tangerang.
Kenapa saya bilang itu drama…?
Yaa karena ada konflik yang muncul saat itu.
Sepengalaman saya kerja kantoran karyawan kantoran identik dengan disiplin, etika & saling koordinasi yang tepat guna. Terlebih dikantoran yg sifatnya kerja tim.
Gak cuma itu kantoran pun punya iklim dari drama keburukan & kekacauan : haus jabatan, tidak bisa berkarya, carmuk (cari muka), kesembronoan, kesewenangan dsb.
Fourtwnty menggambarkan lewat lirik lagunya “Seperti orang-orang berdasi yang gila materi”
Melihat kegelian iklim drama yang terjadi di kantoran, pun akhirnya saya agak sedikit menghindar setidaknya sudah tau ooh seperti itu.
Tapi apakah seburuk dan sekacau itu stigma kerja kantoran?
Coba ambil hikmahnya aja.
Kantor bisa jadi tempat memulai pengalaman, banyak dinamika kerja yang terjadi ada ilmu yang bisa didapatkan dari kultur kerja kantoran : manajemen usaha, manajemen waktu dsb. Kantor jadi tempat juga untuk bersaing sesama teman kerja, punya jenjang karir, bertemu dengan orang-orang penjilat, mengenal tiap2 karakter manusia serta pengalaman dunia kerja lainnya.
Kembali lagi pesan dari lagu di atas, menyadarkan diri untuk tidak terlalu nyaman dengan keadaan yang ada. Atau bahkan terlalu berserah dengan keadaan yang membuat diri tidak melangkah lebih jauh. Lupa bahwa perjalanan bukan mendaki satu bukit.
Makna hidup bukan hanya sekedar tentang ambisi. Mengejar harta, jabatan, atau bahkan cinta. Dunia masih sangat luas untuk dijelajahi. Dengan belajar memahami dan mengerti sudut pandang orang lain, diri mampu belajar lebih banyak hal. Terlebih lagi jika diri mampu menyelami pribadi orang lain.
“Sembilu yang dulu biarlah berlalu”
Masa lalu beranjak seiring lewatnya masa. Kesedihan merupakan hal yang patut di syukuri. Karena darinya diri belajar banyak hal. Perjalanan mencari makna trus berlangsung. Tapi kesedihan bukan satu-satunya jalan untuk belajar.
“Kita ini insan, bukan seekor sapi”
Manusia punya kontrol tindakan dan pilihan hidupnya. Makhluk berakal & punya hati.
“Diam dan mati, miliki dia yang tak bisa berdiri”
Sejatinya diri tidak memiliki kuasa untuk menjamin tindakan/pilihan itu benar. Menunjukan hakikat manusia itu memang lemah.
Tapi satu hal pasti, manusia punya anugerah terindah dari Sang Pencipta : Hati.
Baperlah dengan bersyukur dan tetap ingat kekuasaan-Nya…
Luar Batang, 2 April 2020.






















